Beranda | Artikel
Bersandar dan Berbaik Sangka kepada Allah Subhanahu wa Taala
15 jam lalu

Bersandar dan Berbaik Sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 11 Jumadil Awal 1448 H / 22 Oktober 2026 M.

Kajian Islam Tentang Bersandar dan Berbaik Sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Ayat pertama terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Ayat kedua terdapat dalam surah An-Nisa ayat 19:

… فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Jika kamu tidak menyukai istrimu, boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa [4]: 19)

Kedua ayat tersebut menggambarkan tentang bagaimana seharusnya bersandar dan bersangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala ketentuan-Nya, baik dalam perkara dunia yang disukai maupun yang tidak disukai.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan bahwa ayat pertama berkaitan dengan jihad yang merupakan bentuk kesempurnaan kekuatan kemarahan dalam diri manusia. Yakni ketika kita ingin menyalurkan kemarahan di jalan yang benar, disalurkan dengan cara berjihad di jalan Allah, beramar ma’ruf nahi munkar, mencegah orang yang berbuat buruk. Yang paling sempurna dalam menunaikan kekuatan marah di jalan yang benar adalah dengan berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَقٰتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ لِلّٰهِ…

“Perangilah mereka supaya tidak terjadi lagi fitnah (perbuatan syirik) dan agar agama ini menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 193)

Ayat kedua membahas tentang penyaluran kekuatan syahwat dalam pernikahan dipuji dalam Islam bahkan bernilai sedekah. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ

“Dan pada kemaluan kalian terdapat sedekah.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang di antara kami menyalurkan syahwatnya kepada istrinya dan dia mendapat pahala?”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Tahukah kalian jika seseorang menyalurkannya pada yang haram, maka dia berdosa? Demikian pula jika dia menempatkannya pada yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Ayat pertama membahas kesempurnaan kekuatan dalam kemarahan yang disalurkan melalui jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ayat kedua membahas kesempurnaan kekuatan syahwat yang disalurkan melalui pernikahan.

Seorang hamba tidak menyukai menghadapi musuh menggunakan kekuatan dalam kemarahan pada dirinya karena takut ditimpa keburukan, seperti rasa takut mati, terluka, atau merasakan sakit. Padahal, hal yang tidak disukai tersebut justru lebih baik baginya untuk urusan dunia dan akhirat. Apa yang tidak disukai oleh manusia bukanlah ukuran kebaikan, dan sebaliknya, apa yang disenangi manusia bukanlah pula ukuran mutlak kebaikan dan terhindar dari keburukan. Sebagaimana juga apa yang dibenci bukan berarti kebaikan yang harus dijauhi.

Manusia cenderung menyukai kedamaian, tidak perlu saling menyerang, tidak berperang, serta tidak bersinggungan dengan musuh. Padahal, apa yang dicintai tersebut justru mendatangkan keburukan di dunia dan akhirat. Di akhir ayat pertama, ditegaskan:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Manusia tidak mengetahui akibat dari segala sesuatu karena ilmu yang terbatas. Manusia bahkan tidak mengetahui apa yang terbaik untuk diri sendiri serta kebaikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia dan akhirat karena manusia memiliki sifat kebodohan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

… اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا

“Dan manusia itu sangat dzalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72)

Oleh karena itu, orang yang beriman tidak bersandar kepada apa yang disukai, diinginkan, atau dibenci oleh nafsunya, melainkan bersandar kepada pilihan dari Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Demikian pula seseorang misalnya membenci istrinya karena ada satu sifat dari berbagai sifat yang tidak disukai. Padahal, dengan dia mempertahankan istrinya tersebut agar tetap bersamanya, terdapat kebaikan yang banyak. Sebaliknya, seseorang mencintai seorang perempuan atau istrinya mungkin karena satu sifat tertentu, padahal dengan mempertahankan istrinya justru merupakan keburukan yang besar baginya yang tidak diketahui. Kesukaan dan ketidaksuakaan manusia bukanlah ukuran yang mutlak karena tidak didasarkan pada ilmu yang sempurna, melainkan hanya pandangan sepintas yang ukurannya berpatokan pada hawa nafsu semata.

Manusia memiliki sifat sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sifatkan di dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Ahzab ayat 72: “Dan manusia itu sangat dzalim dan sangat bodoh.”

Makhluk yang memiliki sifat demikian tidak mungkin menjadikan keinginan atau ketidakinginannya sebagai standar untuk menentukan keburukan dan kebaikan. Tidak pantas bagi manusia untuk menjadikan kecenderungan nafsu, kecintaan, ketidaksukaan, serta kebencian terhadap sesuatu sebagai ukuran untuk menilai hal-hal yang mendatangkan keburukan atau manfaat bagi diri sendiri.

Hal tersebut hanya keinginan nafsu tanpa pertimbangan akibat yang baik atau buruk, karena manusia tidak mengetahui akibat dari segala sesuatu, terlebih dengan sifat asalnya yang banyak berbuat dzalim dan memiliki ketidaktahuan yang besar.

Patokan atau ukuran dalam menentukan hal-hal yang dapat mendatangkan manfaat atau mudarat baginya haruslah berdasarkan pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perintah dan larangan-Nya. Ukuran tersebut didasarkan pada ketentuan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang ilmunya meliputi segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi, serta Maha Mengetahui akibat dari segala sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya, baik di bumi maupun di langit. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada dalam pengetahuan-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 5)

Di samping itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Sempurna rahmat, kebaikan, dan karunia-Nya. Ketika Allah menurunkan perintah dan larangan, pasti semua mengandung kebaikan yang sempurna. Sebaliknya, larangan-larangan Allah atau hal-hal yang dibenci-Nya pasti mendatangkan keburukan, mudarat, dan kejelekan bagi manusia.

Hal yang paling bermanfaat bagi manusia secara mutlak adalah menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala pada lahir dan batinnya. Sebaliknya, perkara yang paling buruk dan mendatangkan kemudaratan secara mutlak bagi manusia adalah durhaka kepada Allah pada lahir dan batinnya. Kedurhakaan serta penyimpangan tersebut, baik yang berhubungan dengan anggota badan, lisan, maupun penyimpangan di dalam hati, merupakan perkara yang paling besar mendatangkan keburukan bagi manusia secara mutlak.

Faedah dari dua ayat sebelumnya benar-benar mendidik manusia tentang cara menilai, memikirkan, dan mengusahakan kebaikan untuk diri sendiri, yaitu bukan dengan bersandar kepada kemampuan diri sendiri yang sangat terbatas, melainkan selalu bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah tauhid serta makna dan buah terindah dari keimanan yang benar, yakni senantiasa bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam segala keadaan.

Jika seorang hamba menegakkan ketaatan kepada Allah serta mewujudkan penghambaan diri dengan mengikhlaskan (memurnikan) niat semata-mata untuk Allah, maka segala hal yang berlaku dan berlangsung pada dirinya, termasuk perkara-perkara yang tidak disukai, justru akan mendatangkan kebaikan. Hal tersebut sesuai dengan kandungan ayat Al-Qur’an bahwa bisa jadi seseorang membenci sesuatu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu tersebut, dengan syarat hamba itu senantiasa menegakkan ketaatan dan memurnikan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56650-bersandar-dan-berbaik-sangka-kepada-allah-subhanahu-wa-taala/